Custom Search
Showing posts with label bali. Show all posts
Showing posts with label bali. Show all posts

Saturday, December 10, 2016

Puncak Sepang Bujak, Gunung Bhujangga, Desa Busung Biu, Buleleng

Pada tanggal 3 Desember 2016 kami melakukan persembahyangan ke Puncak Sepang Bujak atau dikenal dengan nama Gunung Bhujangga terletak di desa Sepang, Busung Biu Buleleng. Di tempat inilah Ida Maharsi Markhandeya bertapa supaya bisa menemukan pusat sinar di Bali yang beliau lihat dari Gunung Raung Jawa. Setelah bertapa sekian lama di Gunung Bhujangga barulah beliau mendapatkan petunjuk yang pasti ke arah mana beliau harus berjalan untuk dapat menemukan Pusat Sinar Suci di Bali. Jadi di gunung bhujangga inilah pertama kali beliau bisa melihat gambaran pulau bali seutuhnya melalui penglihatan mata batin. Oleh karena di tempat ini beliau pertama kali melihat bali seutuhnya maka tempat ini pulalah yang beliau pilih untuk melihat bali untuk terakhir kalinya dalam hidup beliau. Dengan kata lain, Puncak Gunung Bhujangga merupakan tempat Ida Maha Rsi Markhandeya Moksa. Beliau Moksa di atas Batu Hitam yang sampai saat sekarang ini masih ada di Puncak Gunung Bhujangga. 
perjalanan dimulai

Perjalanan dari Denpasar kurang lebih bisa ditempuh sekitar 2.5 jam menuju Desa Sepang, Buleleng bisa ditempuh melalui jalur Pupuan atau jalur Surabrata. Kami berangkat dari Denpasar sekitar jam 6 pagi dan sampai di Desa Sepang sekitar jam setengah sembilan. Masyarakat desa Sepang sangat ramah, kami mengajak 5 orang masyarakat disana sebagai pemandu dan pembawa barang karena kami membawa pejati dan bekal makanan dan minum. masalah ongkos bisa dinego disana. Karena musim hujan diperkirakan waktu yang ditempuh 8 jam pp naik turun gunung dan lembah dan menyebrangi sungai. Perjalanan dari bawah dimulai jam 9 dan cuaca cukup bersahabat, kami masuk melewati jalan desa yang jalannya masih cukup baik. Setelah setengah jam berjalan jalan mulai naik dan turun mengikuti alur bukit dan pemandangan mulai kelihatan begitu indah dari atas bukit. Sekitar jam 11 siang ketemu sungai, kami mendapati sebuah campuhan (pertemuan antara dua atau lebih sungai) kami aturkan banten dan menyempatkan diri untuk melukat di campuhan sungai. Setelah melewati sungai jalannya mulai menanjak dan akan terus menanjak sampai puncak. Jam 12 siang kita putuskan untuk istirahat sambil mengisi perut yang sudah mulai lapar.
 Jalan setapak yang kita lewati mulai agak licin karena hujan mulai turun, beberapa orang sudah kelihatan jatuh terpeleset karena licinnya jalan, pacet dan lintah mulai mendekati kaki-kaki kami, hutan semakin rapat, pohon-pohon besar sangat banyak dan suasana mulai agak gelap karena rimbunnya pepohonan. Jam 1 kurang kami sampai pada pelinggih yang pertama dan menghaturkan banten pejati mohon ijin akan naik ke puncak. Jam 1 lebih 15 menit kami sudah sampai puncak. Setelah istirahat sebentar kami menuju beji yang terletak disebelah kanan bawah dari puncak, jalannya sangat curam dan menukik licin. Sampai di beji kami menghaturkan banten pejati dan melakukan pelukatan dan sembahyang di sana. Kedatangan kami di beji disambut oleh hujan dan angin kencang, serta kabut yang menebal dan hawanya yang mulai dingin, semuanya tidak menyurutkan langkah kami malah kami tambah semangat.
puncak yang dituju dari kejauhan
Setelah selesai kami kembali naik menuju Pura. Sampai di pura kami sempatkan untuk merapikan pakaian sembahyang kami masing-masing, walaupun kebanyakan pakaian kami agak kotor karena kena lumpur. Hujanpun semakin deras dan hawa dinginpun semakin menusuk tulang.
Karena hujannya semakin deras dan tidak ada kemungkinan untuk reda jam 2 siang kita putuskan untuk sembahyang bersama di puncak, beberapa kawan sembahyang di bale biar gak kehujanan, kami cuma bertiga sembahyang di bawah hujan yang sangat deras. Aneh bin ajaib setelah kami tri sandya dan panca sembah hujan berhenti secara seketika. Cuma hawa dingin yang masih terasa.
Puji sukur kami panjatkan persembahyangan kami sudah berjalan lancar tanpa halangan yang berarti. Jam 4 sore kita kembali turun ke bawah dan medan yang akan kita lewati pasti semakin licin dan berlumpur karena hujan yang turun begitu derasnya.
Perkiraan kita akan kemalaman dijalan kata pemandu, untunglah pak pemandu membawa beberapa senter. Setelah satu jam perjalanan turun hujan kembali turun sehingga semakin memperlambat waktu tempuh, akhirnya sampai di sungai sekitar jam 7 malam. Kunang-kunang mulai tampak beterbangan semakin memperlihatkan suasana hutan yang sangat sepi dan aura angker hutan semakin terasa. Bulu kudukpun setiap saat berdiri. Jika senter kita matikan gelapnya hutan sangat-sangat gelap sekali. Akhirnya kamipun sampai di awal kita naik sekitar pukul 9 malam. Rasa lelah, haru, bahagia campur menjadi satu dan menyisakan sejuta kenangan yang tidak bisa kami ungkapkan lewat kata-kata. Photo-photo yang kami bagikan cuma pada saat cuaca lagi bersahabat, pada saat hujan kami tidak sempat mengabadikannya.

naik
turun
sungai campuhan






beji
Pura Puncak Bhujangga
Batu tempat Ida Maharsi Markandeya moksa

pacet
kalajengking


Tuesday, July 19, 2016

Friday, August 29, 2014

Melali ke Kerobokan bersama si Merah C70

Minggu, sore 26 Juli 2014 berkunjung ke tempat kerja seorang teman yang berlokasi di seputaran Kerobokan, Badung Bali, Dari rumah naik C70 menuju kerobokan ditempuh kurang lebih setengah jam perjalanan. Berhubung lokasinya cukup bagus akhirnya si merah C70 menyempatkan bergaya ala model papan atas. Photo-photo diambil menggunakan Hp N73





Wednesday, June 18, 2014

Motor Honda Grand 1997

Motor honda grand 1997 terkenal sangat irit,perawatannya sangat simple yg penting rutin ganti oli dan servis sesuai petunjuk pabrik. Motor grand ini punya sejarah yang panjang di keluarga saya karena dipakai sehari- hari oleh ibu saya untuk bekerja



Saturday, May 11, 2013

Akhirnya jadi juga Honda Seven Ceblok-ku

Dengan mengumpulkan segala daya dan upaya demi memperbaiki honda C70 warisan ibu dan banyaknya pengorbanan, akhirnya pelan tapi pasti honda seven ceblok warisan ibu jadi juga

Surat juga sudah dihidupkan, stnk nya mati selama 13 tahun untungnya ada pemutihan sehingga bayarnya lebih sedikit. Mesinnya masih seperti aslinya belum diapa-apain, sudah di test Denpasar- Tabanan lancar jaya

Friday, November 16, 2012

Honda C70 (ceketer) warisan Ibu

Honda C70 atau di Bali lebih dikenal honda seven ceblok atau juga sering disebut motor ceketer, kebetulan ortu punya honda seven ceblok tahun 1976. Honda C70 inilah yang menemani masa kecil saya sampai saya dewasa. Saya bisa naik motor belajarnya pakai honda seven ceblok ini. Namun sayang honda C70 ini belum sempat saya perbaiki.
Semoga cepat bisa saya restorasi honda c70 warisan ibu saya ini

Friday, August 10, 2012

Si Anis Merah dari Bali

Burung anis atau punglor merah merupakan salah satu burung berkicau yang sangat digemari oleh para penghobi burung berkicau. Habitat asli burung penglor merah ini masih bisa ditemui di beberapa daerah di Bali, seperti di Karangasem, Bangli, Tabanan dan sebagainya.
Memelihara burung anis merah menurut pengalaman saya adalah gampang-gampang susah karena burung ini sangat sensitif dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Asal dirawat dengan baik maka burung anis merah akan cepat berbunyi. Ini beberapa photo burung anis merah kepunyaan saya.